MENGINGAT KEMBALI KETOKOHAN Dr. K.R.T. RADJIMAN WEDIODININGRAT

IMG20181030091107

Ngawi –  Dr. K.R.T. Radjiman Wediodiningrat, lahir pada tanggal 21 April 1879 di Desa Mlati, Sleman, Yogyakarta. Beliau berasal dari keluarga sederhana, ayahnya adalah seorang kopral bumi putra bernama Sutodrono. Setelah lulus sekolah di ELS (Sekolah Dasar pada zaman kolonial Hindia Belanda di Indonesia), Radjiman hampir tidak bisa melanjutkan sekolahnya karena tidak ada biaya. Kemudian Sutodrono menitipkan Radjiman kepada dr. Wahidin Soedirohoesodo, seorang Dokter yang juga berasal dari Mlati. Sungguh diluar dugaan, di bawah bimbingan dr. Wahidin ia menjelma menjadi sosok yang sangat luar biasa. Selain sebagai Dokter Jawa, Radjiman adalah salah satu aktor intelektual lahirnya kemerdekaan Indonesia.

Jaman penjajahan Belanda – Saat menjadi ketua Boedi Oetomo (1915 – 1923), Radjiman mengusulkan pembentukan milisi pribumi untuk menangkal efek pecahnya Perang Dunia I. Gagasan Radjiman tentang milisi pribumi merupakan cikal bakal terbentuknya PETA (Pembela Tanah Air) pada jaman pendudukan Jepang di tanah air. Lahirnya PETA inilah yang pada akhirnya menjadi embrio berdirinya Tentara Nasional Indonesia (TNI)  di tahun 1946.

Jaman penjajahan Jepang – Berbekal pengalamannya berorganisasi di Boedi Oetomo, Radjiman melanjutkan kiprahnya di dunia politik yakni menjadi anggota Majelis Pertimbangan Jawa Hookookai, sebagai anggota Tyuo Sangi In pusat dan menjadi ketua Tyuo Sangi-Kai wilayah Madiun. Dan puncaknya adalah menjadi ketua Badan Penyelidik Usaha-Usaha Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dimana yang duduk sebagai anggotanya antara lain Ir. Soekarno dan M. Hatta.

RADJIMAN 2

Keakraban Radjiman Wediodiningrat bersama Ir. Soekarno. (arsip Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kab. Ngawi)

Bersama Soekarno dan Hatta, Radjiman memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Menindaklanjuti hasil dari sidang-sidang BPUPKI, pada 9 Agustus 1945, ketiganya melakukan perjalanan rahasia ke Saigon dan Dalat (Vietnam) untuk membahas tentang kemerdekaan Indonesia bersama Jepang. Hasil konkrit dari pertemuan rahasia tersebut adalah terbentuknya Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) dan pengakuan Jepang bahwa wilayah RI adalah seluruh wilayah Nederlands-Indie.

Selanjutnya kesepakatan dengan pemerintah Jepang di Jakarta mengenai Kemerdekaan Indonesia rencananya akan dilaksanakan pada tanggal 24 Agustus 1945. Namun, karena adanya status quo, akibat kekalahan Jepang terhadap sekutu, akhirnya Proklamasi Kemerdekaan Indonesia berkumandang pada 17 Agustus 1945.

Mengisi Kemerdekaan RI – Setelah Indonesia Merdeka, Radjiman tetap aktif mengawal perjalanan bangsa Indonesia. Diantaranya aktif dalam kelembagaan pemerintahan seperti menjadi anggota KNIP, anggota Dewan Pertimbangan Agung, dan anggota DPR selama dua tahun. Karena faktor usia, Radjiman memutuskan untuk pensiun dan menghabiskan masa tuanya di Bulak Nglaran, Dukuh Dirgo, Walikukun, Kabupaten Ngawi. Hingga akhirnya beliau wafat pada tanggal 20 September 1952.

Untitled-1

Kiri: Foto keluarga Dr. K.R.T. Radjiman Wediodiningrat. Kanan: Kepres penganugerahan gelar Pahlawan Nasional  Dr. K.R.T. Radjiman Wediodiningrat (arsip Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kab. Ngawi)

Berkat perjuangannya yang luar biasa tersebut, akhirnya Dr. KRT. Radjiman Wediodiningrat mendapatkan gelar Pahlawan Nasional. Penganugerahan gelar Pahlawan Nasional tertuang dalam Keputusan Presiden RI Nomor 68/TK/Tahun 2013, tanggal 6 November 2013.  (Kridho/Arsiparis/PPID)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *