Categories
BERITA

MENUJU PEMERINTAHAN AKUNTABEL DAN TERPERCAYA MELALUI PENYELENGGARAAN KEARSIPAN

B

Ngawi – Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Ngawi baru saja menggelar Sosialisasi Peraturan Daerah Kabupaten Ngawi Nomor 8 Tahun 2017 tentang Penyelenggaraan Kearsipan. Gelaran acara yang berlangsung pada tanggal 21 November 2018 kemarin mengundang 53 peserta yang merupakan perwakilan dari Perangkat Daerah se-Kabupaten Ngawi.

Perlu diketahui, Perda Penyelenggaraan Kearsipan adalah acuan bagi seluruh Perangkat Daerah dalam hal pengelolaan, pemeliharaan dan pelestarian arsip guna menjamin penyelamatan arsip sebagai sumber informasi dan mendukung penyelenggaraan administrasi pemerintahan. Dengan begitu, keberadaan Perda Kearsipan akan memberikan kepastian hukum dalam penyelenggaraan kearsipan daerah yang komprehensif, terpadu dan berkesinambungan.

“Perangkat Daerah wajib mengelola arsipnya dengan baik, mulai dari penciptaan hingga sampai pada penyimpanannya. Sehingga secara adminitrasi semua kegiatannya dapat dipertanggungjawabkan”, tegas Ir. Slamet Purwono, MMA disela-sela pembukaan acara tersebut.  “Perda Kearsipan ini adalah kerangka sistem kearsipan daerah guna menjamin keselamatan dan keamanan arsip pemerintah daerah sebagai bukti pertanggungjawaban dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara”, imbuhnya.

Untuk memudahkan pemahaman kepada para peserta, panitia menghadirkan narasumber dari Bagian Organisasi dan Bagian Hukum Setda Kabupaten Ngawi. Kehadiran narasumber tersebut diharapkan dapat memotivasi Perangkat Daerah untuk lebih memperhatikan kearsipannya. Seperti pemenuhan peralatan dan perlengkapan kearsipan, peningkatan mutu SDM, serta dukungan pembiayaan penyelenggaraan Kearsipan  dari pimpinan masing-masing Perangkat Daerah.

Pelaksanaan Sosialisasi Perda Penyelenggaraan Kearsipan mendapat apresiasi dari narasumber, Drs. Joko Sumaryadi, M.H., Kabag. Organisasi Setda Kabupaten Ngawi. Menurutnya, dari sudut pandang organisasi bahwa penyelenggaraan sistem kearsipan komprehensif, terpadu dan berkesinambungan akan sangat membantu kinerja Perangkat Daerah dalam menjalankan tupoksinya. Pencapaian visi dan misi Perangkat Daerah tentunya tidak lepas dari pola administrasi yang dilaksanakan. Dalam hal ini mencakup penciptaan arsip yang baik, benar dan terpercaya sebagai dasar dalam pengambilan keputusan, tambahnya.

(Kridho/Arsiparis/PPID)

Categories
Uncategorized

NGAWI BOOKFEST 2018 “GUNAKAN WAKTU UNTUK MEMBACA”

Ngawi – Gebyar pameran dan bedah buku adalah agenda tahunan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan kabupaten Ngawi. Untuk tahun ini, kegiatan dikemas dan disajikan dalam bentuk  “Ngawi Bookfest 2018 – Gunakan Waktu Untuk Membaca”.  Acara tersebut dibuka oleh Sekda Kabupaten Ngawi, Drs. Mokh. Sodiq Triwidiyanto, MSi dan digelar selama 4 hari di gedung Eka Kapti dari tanggal 7 – 10 November 2018.

“Untuk meningkatkan minat baca, selain penyediaan bahan pustaka perpustakaan harus terus mencari ide-ide cemerlang. Seperti menotifikasi koleksi buku baru melalui Handpone anggota, misalnya”, terang Drs. Mokh. Sodiq Triwidiyanto, Msi.  “Dengan begitu, dapat menarik keinginan para anggota untuk mengunjungi perpustakaan”, jelasnya.

8

Bedah Buku “Guru Kehidupan: Memetik Hikmah, Menebar Maslahah” karya Agus Salim

Selepas pembukaan, acara dilanjutkan dengan bedah buku “Guru Kehidupan: Memetik Hikmah, Menebar Maslahah”, karya Agus Salim. Buku  ini sangat menarik karena mengajak pembaca untuk bisa menemukan mutiara hikmah yang tersembunyi dalam setiap detak kehidupan. Dorongan motivasi dari Agus Salim untuk memetik dan mengambil pelajaran dalam perjalanan kehidupan disambut antusias oleh ratusan pelajar dan mahasiswa yang hadir diacara tersebut.

“Kegiatan ini adalah untuk masyarakat, untuk para pelajar, mahasiswa, guru dan masyarakat umum. Selain pameran buku murah, bedah buku, juga ada lomba bercerita dan lomba mewarnai”, Kata Ir. Slamet Purwono, MMA disela-sela pembukaan acara tersebut. “Kita berharap kegiatan ini dapat mendukung peningkatan minat belajar dan membaca masyarakat.” Tambahnya.

 

Kiri: Carretha Lintang Sinatra, Juara 1 Lomba Bercerita. Kanan: Para pemenang Lomba Mewarnai

Untuk lomba bercerita diikuti oleh siswa/siswi perwakilan dari Sekolah Dasar terpilih se-Kabupaten Ngawi. Adapun pemenangnya adalah Sdri. Carretha Lintang Sinatra dari SDN Ngale 3 Paron, dan berhak mengikuti lomba bercerita tingkat provinsi tahun depan. Sedangkan lomba mewarnai khusus untuk tingkat Taman Kanak-Kanak (TK) dimenangkan oleh Naura Sellyaneza Maharani. (Kridho/Arsiparis/PPID)

Categories
BERITA

MENGINGAT KEMBALI KETOKOHAN Dr. K.R.T. RADJIMAN WEDIODININGRAT

IMG20181030091107

Ngawi –  Dr. K.R.T. Radjiman Wediodiningrat, lahir pada tanggal 21 April 1879 di Desa Mlati, Sleman, Yogyakarta. Beliau berasal dari keluarga sederhana, ayahnya adalah seorang kopral bumi putra bernama Sutodrono. Setelah lulus sekolah di ELS (Sekolah Dasar pada zaman kolonial Hindia Belanda di Indonesia), Radjiman hampir tidak bisa melanjutkan sekolahnya karena tidak ada biaya. Kemudian Sutodrono menitipkan Radjiman kepada dr. Wahidin Soedirohoesodo, seorang Dokter yang juga berasal dari Mlati. Sungguh diluar dugaan, di bawah bimbingan dr. Wahidin ia menjelma menjadi sosok yang sangat luar biasa. Selain sebagai Dokter Jawa, Radjiman adalah salah satu aktor intelektual lahirnya kemerdekaan Indonesia.

Jaman penjajahan Belanda – Saat menjadi ketua Boedi Oetomo (1915 – 1923), Radjiman mengusulkan pembentukan milisi pribumi untuk menangkal efek pecahnya Perang Dunia I. Gagasan Radjiman tentang milisi pribumi merupakan cikal bakal terbentuknya PETA (Pembela Tanah Air) pada jaman pendudukan Jepang di tanah air. Lahirnya PETA inilah yang pada akhirnya menjadi embrio berdirinya Tentara Nasional Indonesia (TNI)  di tahun 1946.

Jaman penjajahan Jepang – Berbekal pengalamannya berorganisasi di Boedi Oetomo, Radjiman melanjutkan kiprahnya di dunia politik yakni menjadi anggota Majelis Pertimbangan Jawa Hookookai, sebagai anggota Tyuo Sangi In pusat dan menjadi ketua Tyuo Sangi-Kai wilayah Madiun. Dan puncaknya adalah menjadi ketua Badan Penyelidik Usaha-Usaha Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dimana yang duduk sebagai anggotanya antara lain Ir. Soekarno dan M. Hatta.

RADJIMAN 2

Keakraban Radjiman Wediodiningrat bersama Ir. Soekarno. (arsip Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kab. Ngawi)

Bersama Soekarno dan Hatta, Radjiman memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Menindaklanjuti hasil dari sidang-sidang BPUPKI, pada 9 Agustus 1945, ketiganya melakukan perjalanan rahasia ke Saigon dan Dalat (Vietnam) untuk membahas tentang kemerdekaan Indonesia bersama Jepang. Hasil konkrit dari pertemuan rahasia tersebut adalah terbentuknya Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) dan pengakuan Jepang bahwa wilayah RI adalah seluruh wilayah Nederlands-Indie.

Selanjutnya kesepakatan dengan pemerintah Jepang di Jakarta mengenai Kemerdekaan Indonesia rencananya akan dilaksanakan pada tanggal 24 Agustus 1945. Namun, karena adanya status quo, akibat kekalahan Jepang terhadap sekutu, akhirnya Proklamasi Kemerdekaan Indonesia berkumandang pada 17 Agustus 1945.

Mengisi Kemerdekaan RI – Setelah Indonesia Merdeka, Radjiman tetap aktif mengawal perjalanan bangsa Indonesia. Diantaranya aktif dalam kelembagaan pemerintahan seperti menjadi anggota KNIP, anggota Dewan Pertimbangan Agung, dan anggota DPR selama dua tahun. Karena faktor usia, Radjiman memutuskan untuk pensiun dan menghabiskan masa tuanya di Bulak Nglaran, Dukuh Dirgo, Walikukun, Kabupaten Ngawi. Hingga akhirnya beliau wafat pada tanggal 20 September 1952.

Untitled-1

Kiri: Foto keluarga Dr. K.R.T. Radjiman Wediodiningrat. Kanan: Kepres penganugerahan gelar Pahlawan Nasional  Dr. K.R.T. Radjiman Wediodiningrat (arsip Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kab. Ngawi)

Berkat perjuangannya yang luar biasa tersebut, akhirnya Dr. KRT. Radjiman Wediodiningrat mendapatkan gelar Pahlawan Nasional. Penganugerahan gelar Pahlawan Nasional tertuang dalam Keputusan Presiden RI Nomor 68/TK/Tahun 2013, tanggal 6 November 2013.  (Kridho/Arsiparis/PPID)